Kalau yang menahan Anda bukan keamanan, tapi rasa malu
Ini hambatan yang paling jarang diakui dan paling sering menghentikan
orang. Bukan soal data, bukan soal biaya — soal bagaimana rasanya
mendaftar, dan apa yang akan dipikirkan orang seandainya tahu.
Rasa itu wajar dan tidak perlu diperdebatkan. Yang perlu diluruskan hanya
anggapan di baliknya: bahwa mendaftar berarti mengaku tidak laku. Padahal
mencari pasangan lewat perantara adalah cara yang paling lama dikenal
dalam Islam. Para sahabat menitipkan urusan ini kepada orang yang mereka
percaya. Yang baru bukan perantaranya — yang baru hanya bentuknya, yang
kini berupa aplikasi.
Secara praktis pun tidak ada yang perlu dipertontonkan. Yang dilihat
member lain adalah isi CV, bukan wajah — setiap member diwakili avatar
mobil atau bunga. CV pun hanya bisa dibaca member terverifikasi, tidak
ada daftar publik yang bisa diakses dari luar. Tidak ada yang tahu Anda
mendaftar kecuali Anda sendiri yang memberi tahu. Dan kalau ternyata
belum cocok, akun bisa dihapus tanpa perlu menjelaskan apa-apa.
Kalau masih terasa berat, tidak apa-apa memulai dari yang paling ringan:
kerjakan tesnya dulu — tanpa akun, tanpa nama, tanpa
siapa pun tahu. Ikhtiar itu bertahap, dan tidak ada yang menuntut Anda
melompat.