Meski Pasrah, Tetap Yakin Janji Allah: Ukh Puja dan Akh Adha
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Sebelum ana memulai cerita perjalanan bertemu dengan suami ana melalui aplikasi TLN ini, ana dan suami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh teman-teman anggota TLN yang telah membantu proses ta'aruf kami hingga akad terucap. Atas izin Allah, kami bertemu dan ditakdirkan untuk bersama, semoga kelak hingga ke Syurganya Allah Ta'ala. Aamiin Allahumma Aamiin.
Kami berdua sama-sama baru saja mendaftar di TLN dan ikhtiar mencari pasangan hidup, lalu dipertemukan, disatukan, dimudahkan untuk berproses menuju pernikahan, dan semoga Allah selalu memberkahi rumah tangga kami.
Awalnya, suami ana yang mengajukan ta'aruf, qadarullah ana tolak karena saat itu ana sedang menunggu jawaban dari ikhwan di biro ta'aruf lain. Karena posisinya saat itu, ketika ana mencoba mendaftar di TLN, ana memang sedang proses ta'aruf di biro lain, dan enggak sadar kalau ternyata CV ana sudah aktif, sehingga suami ana bisa mengajukan ta'aruf ke ana.
Ana sempat bimbang pada saat suami ana mengajukan ta'aruf. Di sisi lain, ana merasa tertarik dan ada kecocokan setelah membaca CV beliau, tapi di sisi lain ana juga masih menunggu jawaban dari pasangan ta'aruf ana kala itu.
Dengan mengucap
bismillah dan berkeyakinan dengan janji Allah, ana memutuskan menolak ajuan ta'aruf beliau. Dalam hati ana berkata, "Kalau memang jodoh, nanti pasti dipertemukan."
Sepekan berlalu, qadarullah pasangan ta'aruf ana kala itu memutuskan untuk tidak melanjutkan ta'aruf. Kala itu, ana benar-benar sudah berada di titik pasrah, karena itu entah sudah yang ke berapa kali proses ta'aruf yang ana jalani memiliki akhir yang sempat membuat ana kehilangan kepercayaan diri, tetapi keyakinan akan janji Allah dan segala kehendak-Nyalah yang membuat ana kembali berprasangka baik, kembali yakin dan semangat untuk mencari dan berjuang memperbaiki diri.
Di hari yang sama, ana mencoba ikhtiar lagi melalui TLN,
Alhamdulillah ternyata suami ana ini masih belum proses ta'aruf dengan siapa pun,
bismillah ana putuskan untuk mengajukan ta'aruf kepada beliau.
Alhamdulillah semua proses tanya jawab dan perkenalan melalui grup berjalan dengan lancar dan kami menemukan kecocokan, setelah itu memutuskan untuk nadzhor.
Saat nadzhor pun, ana enggak menaruh ekspektasi apapun. Bagaimana keputusan beliau selanjutnya, itu adalah jawaban dari Allah. Dan, bagaimana pun nanti keputusan ana selanjutnya, itu pun sudah menjadi bagian dari rencana Allah. Karena qadarullah, sebelum dengan beliau, ana sudah dua kali melakukan nadzhor, dan keduanya sama-sama belum menemukan kecocokan dari pihak ikhwan.
Jadi, nadzhor kali ini pun ana berpikir bahwa, "Enggak apa-apa kalau nanti memang gak berlanjut, berarti Allah udah siapkan yang terbaik. Tapi, kalau memang ini berlanjut, berarti dia yang terbaik."
Alhamdulillah, perjalanan ini mengajarkan ana begitu banyak hal, terutama melatih kesabaran dengan terus berprasangka baik pada rencana-rencanaNya yang enggak pernah terduga dan banyak sekali kejutannya.
Tak terasa, hampir genap setahun, kami berada di titik itu, dimana kami sama-sama menyempurnakan separuh agama kami, dimana beliau benar-benar menjadikan ana sebagai pasangan hidupnya, dimana ana memutuskan untuk menjadikannya pemimpin dalam rumah tangga ana kelak, dimana ana harus rela berpisah dari kedua orang tua ana dan hidup bersama seorang ikhwan yang baru ana kenal.
Semua keputusan ini memang enggak mudah, banyak sekali rintangan yang semakin membuat ana yakin dan percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik.
Alhamdulillah semua Allah mudahkan dan lancarkan dengan dibumbui oleh pedas manisnya kehidupan dan segala godaan yang melanda.
Karena menikah itu tidak hanya menyatukan dua kepala dan dua hati, tetapi juga menyatukan kedua keluarga, maka tidaklah pantas jika kami hanya mementingkan diri sendiri tanpa adanya komunikasi yang baik. Di sinilah kesabaran dan keimanan kembali mendapatkan soal ujian paling menantang, sekaligus menyenangkan.
Tidak ada yang bisa kami lakukan selain terus berdo'a dan meminta petunjuk pada-Nya, karena hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui.
Jika Allah katakan, "Ya." maka itu artinya kami bisa bersatu dalam ikatan yang suci bernama pernikahan. Tapi jika Allah mengatakan, "Tidak." maka itu artinya perjalanan mencari pasangan hidup masih terus berlanjut.
Ini bukanlah akhir, melainkan awal mula perjalanan hidup yang semoga kelak kami dipersatukan hingga ke Jannah-Nya. Aamiin.
Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan kita dan semua kaum muslimin. Yang belum menemukan pasangan hidup, semoga Allah segerakan dan mudahkan dalam terus memperbaiki diri dan istiqomah di jalan yang lurus. Aamiin Allahumma Aamiin.
Kisah ini ditulis dan dikirim sendiri oleh member, dan ditayangkan atas persetujuan mereka. Setiap proses ta'aruf berbeda — cerita di sini bukan jaminan hasil yang sama.