Persiapan Menikah

Persiapan Finansial Sebelum Menikah

4 menit baca

Yang disyaratkan syariat adalah kesanggupan menafkahi, bukan kemapanan menurut ukuran masyarakat. Yang perlu disiapkan sebenarnya hanya tiga: mahar, biaya akad, dan nafkah bulanan yang berkelanjutan. Resepsi besar, rumah milik sendiri, dan tabungan besar bukan syarat, dan menjadikannya syarat berarti menunda pernikahan atas dasar yang tidak diminta.

Alasan penundaan pernikahan yang paling sering terdengar adalah keuangan. Sebagian benar-benar berdasar, tetapi sebagian besar berasal dari standar yang tidak pernah diminta syariat.

Yang sebenarnya disyaratkan

Kembali ke hadits yang menjadi dasar anjuran menikah:

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang sudah sanggup menanggung beban pernikahan, hendaklah ia menikah.”

— HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400

Kata yang dipakai adalah al-ba’ah, yang dimaknai mayoritas ulama sebagai kesanggupan menanggung beban pernikahan — yaitu sanggup memberi nafkah dan menunaikan hak pasangan.

Bukan kemapanan. Bukan tabungan sekian puluh juta. Bukan rumah atas nama sendiri.

Allah Ta’ala bahkan menutup kekhawatiran ini secara langsung:

“Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”

— QS. An-Nur: 32

Tiga hal yang benar-benar perlu disiapkan

1. Mahar

Wajib, dan tidak boleh ditinggalkan. Tetapi besarannya tidak dipatok syariat.

Nabi ﷺ pernah menikahkan seorang sahabat dengan mahar berupa cincin dari besi, dan dalam riwayat lain dengan hafalan Al-Qur’an yang dimilikinya. Beliau juga bersabda:

“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah (ringan).”

— HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh sebagian ulama

Yang perlu diperhatikan: mahar adalah hak istri sepenuhnya, bukan pemberian untuk orang tuanya. Rinciannya dibahas di mahar dalam Islam.

2. Biaya akad

Pencatatan nikah di KUA pada hari dan jam kerja tidak dipungut biaya. Bila dilaksanakan di luar kantor atau di luar jam kerja, ada biaya resmi yang ditetapkan pemerintah dan disetorkan ke kas negara — bukan kepada perorangan.

Selebihnya adalah biaya dokumen yang jumlahnya kecil.

3. Nafkah bulanan yang berkelanjutan

Ini yang sebenarnya menentukan, dan yang paling sering luput karena perhatian tertuju pada biaya acara.

Yang perlu dipastikan tersedia setiap bulan:

  • Makan
  • Tempat tinggal
  • Pakaian
  • Kesehatan
  • Kebutuhan rumah tangga sehari-hari

Nafkah adalah soal penghasilan rutin, bukan tabungan besar. Seseorang dengan tabungan besar tetapi tanpa penghasilan justru lebih rawan daripada yang berpenghasilan kecil tetapi tetap.

Yang bukan syarat

Sering dianggap wajibKenyataannya
Rumah milik sendiriTempat tinggal layak sudah cukup, termasuk sewa
Resepsi besarWalimah dianjurkan, besarannya sesuai kemampuan
KendaraanTidak disyaratkan
Tabungan puluhan jutaYang dituntut penghasilan rutin
Mahar besarYang terbaik adalah yang ringan
Karier mapanYang dituntut sumber nafkah yang halal
Seserahan lengkapAdat, bukan kewajiban

Menjadikan kolom kiri sebagai syarat berarti menunda pernikahan atas dasar yang tidak diminta — dan dalam banyak kasus, penundaan itu berlangsung bertahun-tahun.

Menyusun rencana yang realistis

Langkah 1 — Hitung kebutuhan bulanan yang sebenarnya. Buat daftar pengeluaran pokok berdua secara jujur, tanpa mengecilkan dan tanpa membesarkan. Ini angka yang paling menentukan, bukan biaya acara.

Langkah 2 — Pastikan sumbernya rutin dan halal. Penghasilan tetap lebih menenangkan daripada penghasilan besar yang tidak pasti.

Langkah 3 — Siapkan biaya akad dan mahar. Jumlahnya jauh lebih kecil daripada yang biasanya dibayangkan.

Langkah 4 — Sesuaikan walimah dengan sisa kemampuan, bukan sebaliknya. Ini urutan yang sering dibalik, dan pembalikan itulah yang membuat pernikahan tertunda.

Langkah 5 — Sisihkan dana darurat sederhana bila memungkinkan. Bukan syarat, tetapi sangat membantu di tahun pertama.

Langkah 6 — Selesaikan utang berbunga lebih dahulu bila ada. Memulai rumah tangga dengan beban riba menambah kesulitan sejak awal.

Membicarakannya saat ta’aruf

Ini pembicaraan yang sering dihindari karena canggung, padahal termasuk penyebab konflik terbesar dalam rumah tangga.

Yang perlu terbuka:

  • Kesanggupan menafkahi, dinyatakan jelas.
  • Tanggungan yang sudah ada.
  • Utang, bila jumlahnya berpengaruh.
  • Siapa yang mengelola keuangan rumah tangga.
  • Pandangan tentang istri bekerja.
  • Kewajiban rutin kepada keluarga besar.

Tidak perlu memerinci nominal gaji. Yang diperlukan adalah kejelasan bahwa kebutuhan pokok akan tercukupi.

Kalau penghasilan masih kecil

Beberapa hal yang perlu dipahami:

  • Sampaikan apa adanya sejak awal. Calon dan walinya berhak tahu, dan menerima keadaan itu dengan mata terbuka jauh lebih baik daripada terkejut setelahnya.
  • Sesuaikan gaya hidup, bukan menunda pernikahan tanpa batas.
  • Mulai dari yang sederhana. Rumah sewa kecil bukan kegagalan; hampir semua rumah tangga bermula dari sana.
  • Hindari berutang untuk acara. Ini kesalahan yang paling mahal — membebani tahun-tahun pertama demi satu hari.

Yang paling menentukan

Bukan besarnya angka, melainkan kejujuran dan kesepakatan.

Rumah tangga dengan penghasilan pas-pasan yang dibicarakan terbuka jauh lebih tenang daripada rumah tangga berpenghasilan besar yang dibangun di atas gambaran yang tidak sesuai kenyataan.

Selanjutnya: mahar dalam Islam dan walimah yang sederhana dan berkah.

Pertanyaan terkait

Berapa uang yang harus disiapkan untuk menikah?

Tidak ada angka baku. Yang wajib hanya mahar, yang boleh berupa apa saja yang bernilai dan disepakati, serta biaya pencatatan nikah yang gratis bila dilakukan di KUA pada jam kerja. Selebihnya adalah nafkah bulanan yang berkelanjutan — dan itu soal penghasilan rutin, bukan tabungan besar.

Apakah harus punya rumah dulu sebelum menikah?

Tidak. Yang disyaratkan adalah menyediakan tempat tinggal yang layak bagi istri, dan tempat tinggal sewa memenuhi kewajiban itu. Menjadikan rumah milik sendiri sebagai syarat berarti menunda pernikahan atas standar yang tidak diminta syariat.

Apakah resepsi mewah itu wajib?

Tidak. Yang dianjurkan adalah mengadakan walimah, dan walimah bisa sesederhana menyembelih seekor kambing atau bahkan menghidangkan apa yang ada. Berutang untuk resepsi besar adalah membebani awal rumah tangga demi acara satu hari.

Bagaimana kalau penghasilan saya masih kecil?

Yang dinilai adalah kesanggupan menafkahi sesuai kemampuan, bukan besarnya angka. Penghasilan kecil yang halal dan rutin sudah memenuhi syarat, selama kebutuhan pokok tercukupi dan calon serta walinya menerimanya dengan jelas sejak awal.

Belum yakin harus mulai dari mana?

Kenali dulu kesiapan dan tipe ta'aruf Anda lewat tes singkat. Bisa dikerjakan sekarang, tanpa perlu membuat akun.