Daftar Pertanyaan Ta'aruf Sebelum Menikah
Pertanyaan ta'aruf yang baik menggali hal yang sulit diubah setelah menikah: agama dan akhlak, visi rumah tangga, uang, keluarga besar, dan cara menyelesaikan konflik. Yang paling berguna bukan pertanyaan ya/tidak, melainkan pertanyaan yang meminta contoh nyata — karena jawaban ideal mudah diucapkan, sementara cerita masa lalu lebih sulit dikarang.
Ta’aruf berlangsung singkat, dan keputusannya seumur hidup. Karena itu pertanyaan yang diajukan menentukan sekali — bukan jumlahnya, tetapi apakah ia menyentuh hal-hal yang sulit diubah setelah menikah.
Prinsip menyusun pertanyaan
Tanyakan yang sulit berubah, bukan yang mudah berubah. Selera makanan bisa menyesuaikan; cara seseorang memperlakukan orang tuanya tidak.
Minta contoh, bukan pendapat. “Apakah Anda sabar?” akan dijawab ya. “Ceritakan kapan terakhir Anda kehilangan kesabaran, dan apa yang terjadi” memberi informasi yang sebenarnya.
Dengarkan yang tidak dijawab. Pertanyaan yang dihindari, dijawab kabur, atau dialihkan sering lebih memberi tahu daripada jawaban yang lancar.
1. Agama dan akhlak
Ini pondasinya, sesuai arahan Nabi ﷺ:
“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia.”
— HR. Tirmidzi no. 1084, dinilai hasan
- Bagaimana kondisi shalat lima waktu Anda saat ini, apa adanya?
- Bagaimana hubungan Anda dengan Al-Qur’an — bacaan dan hafalan?
- Siapa ustadz atau rujukan yang Anda ikuti dalam belajar agama?
- Bagaimana sikap Anda terhadap perbedaan pendapat dalam masalah fiqih?
- Kajian atau majelis apa yang rutin Anda ikuti?
- Apa satu hal dalam agama yang masih Anda perjuangkan untuk diperbaiki?
- Bagaimana Anda memperlakukan orang tua Anda sehari-hari?
- Ceritakan kapan terakhir Anda marah, dan bagaimana Anda menyikapinya.
- Bagaimana Anda bersikap ketika berselisih dengan teman dekat?
- Apa yang Anda lakukan ketika tahu Anda yang salah?
2. Visi rumah tangga
- Apa gambaran rumah tangga yang Anda inginkan lima tahun ke depan?
- Di mana rencana tempat tinggal setelah menikah — mandiri atau bersama orang tua?
- Bagaimana pembagian peran di rumah menurut Anda?
- Berapa anak yang Anda harapkan, dan kapan?
- Bagaimana rencana pendidikan anak — sekolah umum, Islam, atau di rumah?
- Bagaimana pandangan Anda tentang istri bekerja?
- Bagaimana keputusan besar akan diambil di rumah tangga kita?
- Apa yang menurut Anda paling sering membuat rumah tangga gagal?
- Kebiasaan ibadah apa yang ingin Anda jalankan bersama?
- Apa yang Anda harapkan dari pasangan yang tidak bisa Anda penuhi sendiri?
3. Nafkah dan keuangan
Bahasan yang sering dihindari karena canggung, padahal termasuk penyebab konflik terbesar dalam rumah tangga.
- Apa pekerjaan Anda saat ini, dan seberapa stabil?
- Apakah Anda sanggup menafkahi rumah tangga sejak awal?
- Berapa orang yang saat ini menjadi tanggungan Anda?
- Apakah Anda memiliki utang? Berapa besar dan bagaimana rencana pelunasannya?
- Bagaimana pandangan Anda tentang pinjaman berbunga?
- Siapa yang akan mengelola keuangan rumah tangga?
- Bagaimana sikap Anda terhadap menabung dan gaya hidup?
- Apakah Anda punya kewajiban rutin kepada keluarga besar?
- Apa rencana Anda bila penghasilan tiba-tiba berhenti?
- Berapa kisaran mahar yang Anda siapkan, dan apa pertimbangannya?
4. Keluarga besar
Menikah bukan hanya dengan orangnya.
- Bagaimana kondisi orang tua Anda — kesehatan dan tempat tinggal?
- Bagaimana hubungan Anda dengan mereka?
- Apa harapan orang tua Anda terhadap calon menantu?
- Apakah ada tanggung jawab khusus Anda terhadap keluarga?
- Bagaimana Anda menyikapi bila orang tua dan pasangan berbeda pendapat?
- Bagaimana kebiasaan keluarga Anda dalam beragama?
- Seberapa sering Anda mengharapkan kunjungan ke keluarga besar?
- Apakah orang tua Anda sudah mengetahui proses ta’aruf ini?
- Apakah ada adat keluarga yang harus dipenuhi dalam pernikahan?
- Bagaimana keluarga Anda menyelesaikan perselisihan?
5. Kesehatan
- Apakah ada penyakit kronis atau riwayat penyakit keluarga?
- Apakah ada kondisi yang berpengaruh pada kesuburan?
- Apakah Anda bersedia melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah?
- Bagaimana kondisi kesehatan jiwa Anda, dan apakah ada riwayat pengobatan?
- Apakah Anda merokok atau punya kebiasaan lain yang berpengaruh?
- Bagaimana pola tidur dan aktivitas fisik Anda?
- Apakah ada alergi atau pantangan yang perlu diketahui?
6. Cara menyelesaikan konflik
Ini yang paling menentukan daya tahan rumah tangga, dan paling jarang ditanyakan.
- Apa yang Anda lakukan ketika sedang sangat kesal pada seseorang?
- Apakah Anda cenderung diam atau langsung membicarakan masalah?
- Ceritakan satu perselisihan terakhir Anda dan bagaimana selesainya.
- Bagaimana sikap Anda bila dikritik?
- Siapa yang biasanya Anda ajak bicara ketika ada masalah?
- Apa yang Anda harapkan dari pasangan saat Anda sedang terpuruk?
- Apakah Anda pernah memutus hubungan dengan seseorang? Karena apa?
- Bagaimana sikap Anda bila pasangan berbuat salah kepada Anda?
7. Kesiapan dan komitmen
- Mengapa Anda ingin menikah sekarang?
- Apa yang membuat Anda merasa sudah siap?
- Apa kekurangan Anda yang paling perlu diketahui pasangan?
- Apa yang tidak bisa Anda toleransi dari pasangan?
- Apa harapan Anda dari proses ta’aruf ini, dan berapa lama Anda ingin ia berjalan?
Pertanyaan yang sebaiknya dihindari
- Menggali aib masa lalu yang telah Allah tutup — pacaran sebelumnya, dosa yang sudah ditaubati.
- Membandingkan dengan orang lain — “kenapa dulu tidak jadi dengan yang itu?”
- Menuntut rincian keuangan yang tidak relevan — rincian pengeluaran pribadi, misalnya.
- Pertanyaan menjebak yang tujuannya menguji, bukan mengenali.
- Pertanyaan yang jawabannya sudah Anda tentukan dan hanya mencari pembenaran.
Cara membaca jawaban
- Jawaban yang terlalu sempurna patut diperiksa lagi lewat pertanyaan yang meminta contoh.
- Ketidakcocokan pada hal prinsip — akidah, ibadah pokok, akhlak — bukan hal yang bisa dinegosiasi.
- Ketidakcocokan pada hal teknis — selera, kebiasaan kecil — biasanya bisa disesuaikan.
- Bandingkan dengan keterangan pihak ketiga. Bertanya kepada orang yang mengenal calon dibolehkan untuk keperluan ini.
Praktisnya
Jangan kirim 60 pertanyaan sekaligus — itu terasa seperti ujian, bukan perkenalan. Pilih 20–25 yang paling penting bagi Anda, ajukan bertahap, dan sisakan ruang untuk pertanyaan lanjutan dari jawaban yang menarik.
Dan ingat: pertanyaan-pertanyaan ini disampaikan lewat jalur yang ada perantaranya, dengan batasan interaksi yang tetap dijaga.
Selanjutnya: cara menyusun CV ta’aruf dan tahapan proses lengkap.
Pertanyaan terkait
Berapa banyak pertanyaan yang wajar diajukan saat ta'aruf?
Tidak ada angka baku, tetapi umumnya 20-30 pertanyaan yang tepat sasaran sudah cukup untuk mengambil keputusan. Yang lebih menentukan bukan jumlahnya, melainkan apakah pertanyaannya menyentuh hal-hal yang sulit diubah setelah menikah.
Apakah boleh bertanya soal penghasilan saat ta'aruf?
Boleh, dan justru perlu. Nafkah adalah kewajiban suami, sehingga kemampuan menanggungnya adalah informasi yang berhak diketahui pihak perempuan dan walinya. Yang perlu dijaga adalah caranya: tanyakan kesanggupan menafkahi dan tanggungan yang ada, bukan menuntut rincian yang tidak relevan.
Bolehkah bertanya tentang masa lalu calon?
Sebaiknya tidak menggali aib yang telah Allah tutup. Yang berhak ditanyakan adalah hal yang berpengaruh pada rumah tangga ke depan: status pernikahan sebelumnya, anak, tanggungan, utang, dan kondisi kesehatan. Selain itu, membongkar masa lalu lebih banyak merugikan daripada bermanfaat.
Bagaimana kalau jawabannya terasa dibuat-buat?
Ajukan pertanyaan yang meminta contoh nyata, bukan pendapat. 'Bagaimana sikap Anda saat marah?' mudah dijawab ideal; 'Ceritakan satu perselisihan terakhir dengan keluarga dan bagaimana selesainya' jauh lebih sulit dikarang. Bandingkan juga jawabannya dengan keterangan orang yang mengenalnya.
Bagian dari panduan Proses & Praktik.