Konsep Ta'aruf

Jodoh dalam Islam: Sudah Ditakdirkan atau Harus Diusahakan?

6 menit baca

Jodoh, sebagaimana rezeki dan ajal, telah tertulis dalam ilmu Allah lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Tetapi kita tidak pernah tahu isi tulisan itu — yang kita diperintahkan hanyalah berikhtiar di jalan yang halal, berdoa, lalu ridha pada hasilnya. Takdir bukan alasan untuk diam, sebagaimana ia bukan pula pembenaran untuk menempuh jalan yang haram.

“Kalau jodoh sudah ditakdirkan, kenapa saya harus repot mencari? Toh kalau memang jodoh, dia akan datang sendiri.”

Pertanyaan ini terdengar logis, dan banyak yang berhenti berusaha karenanya. Padahal cara berpikir seperti ini — mengambil satu sisi takdir lalu meninggalkan sisi amalnya — bukanlah pemahaman yang diajarkan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Mari kita urai dari dasarnya.

Memahami takdir dalam aqidah Ahlus Sunnah

Beriman kepada takdir (qadar) adalah rukun iman yang keenam. Dalam hadits Jibril yang masyhur, Nabi ﷺ menyebutkan:

“…dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”

— HR. Muslim no. 8

Para ulama menjelaskan bahwa iman kepada takdir mencakup empat tingkatan: Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, Allah menuliskannya di Lauhul Mahfuzh, segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, dan Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu.

Yang sering dilupakan: aqidah Ahlus Sunnah menetapkan takdir sekaligus menetapkan bahwa manusia punya kehendak, pilihan, dan tanggung jawab atas amalnya. Dua hal ini tidak saling meniadakan. Yang menyimpang adalah dua kutub ekstrem: kelompok yang menolak takdir sama sekali, dan kelompok yang menjadikan takdir alasan untuk berhenti beramal.

Apakah jodoh sudah tertulis?

Ya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”

— HR. Muslim no. 2653

Dan tentang setiap manusia sejak dalam kandungan:

“…kemudian diutus kepadanya malaikat, lalu ditiupkan ruh padanya, dan malaikat itu diperintahkan menulis empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta sengsara atau bahagianya.”

— HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643

Pernikahan termasuk dalam rezeki dan perjalanan hidup yang telah tertulis itu. Siapa yang akan Anda nikahi, kapan, dan bagaimana — semuanya sudah dalam ilmu Allah, dan pena telah selesai menuliskannya. Nabi ﷺ berpesan kepada Ibnu Abbas:

“Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

— HR. Tirmidzi no. 2516, beliau berkata: hasan sahih

Sampai di sini, jelas: jodoh sudah ditetapkan. Tetapi justru di sinilah banyak orang salah mengambil kesimpulan.

Mengapa takdir tidak menggugurkan ikhtiar

Pertanyaan “untuk apa berusaha kalau sudah ditakdirkan” bukan pertanyaan baru. Para sahabat pernah menanyakannya langsung kepada Nabi ﷺ: kalau tempat setiap orang di surga atau neraka sudah tertulis, mengapa harus beramal? Beliau menjawab:

“Beramallah, karena masing-masing akan dimudahkan menuju apa yang diciptakan untuknya.”

— HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647

Jawaban ini menutup pintu fatalisme selamanya. Takdir adalah urusan Allah yang tersembunyi dari kita; amal adalah urusan kita yang diperintahkan. Kita tidak dibebani mengetahui isi Lauhul Mahfuzh — kita hanya dibebani berusaha.

Kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memperjelasnya. Ketika hendak memasuki Syam yang sedang dilanda wabah taun, beliau memutuskan kembali. Abu Ubaidah bertanya, “Apakah engkau lari dari takdir Allah?” Umar menjawab:

“Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah.”

— HR. Bukhari no. 5729 dan Muslim no. 2219

Lalu beliau memberi perumpamaan: jika engkau menggembala unta di antara dua lembah — satu subur, satu tandus — bukankah menggembalakannya di lembah yang subur juga takdir Allah, sebagaimana menggembalakannya di lembah tandus juga takdir Allah?

Artinya: memilih jalan usaha yang baik adalah bagian dari takdir itu sendiri, bukan penentangan terhadapnya. Orang yang berikhtiar mencari jodoh dan orang yang berdiam diri sama-sama berjalan di dalam takdir — bedanya, yang pertama menempuh sebab yang diperintahkan, yang kedua meninggalkannya.

Nabi ﷺ bahkan memerintahkan secara tegas:

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”

— HR. Muslim no. 2664

Kekeliruan pertama: menunggu jodoh datang sendiri

“Jodoh tidak ke mana” sering dipakai untuk membenarkan sikap pasif: tidak memantaskan diri, tidak membuka pintu perkenalan yang halal, tidak meminta bantuan keluarga atau perantara — lalu berharap seseorang tiba-tiba mengetuk pintu.

Ini bukan tawakkal. Rezeki juga sudah tertulis, tetapi tidak ada yang menyimpulkan bahwa bekerja tidak perlu. Nabi ﷺ mengajarkan urutannya kepada seorang badui yang bertanya apakah untanya dilepas saja lalu bertawakkal:

“Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.”

— HR. Tirmidzi no. 2517, dinilai hasan oleh Al-Albani

Menikah pun disebut Al-Qur’an dengan bahasa perintah yang melibatkan usaha manusia:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu… Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”

— QS. An-Nur: 32

Ayat ini menyuruh menikahkan — sebuah kata kerja, sebuah usaha — dan menjanjikan pertolongan Allah di atas usaha itu, bukan sebagai penggantinya.

Kekeliruan kedua: menghalalkan segala cara atas nama ikhtiar

Kutub sebaliknya sama kelirunya: merasa wajib berusaha, lalu menempuh jalan apa pun — pacaran bertahun-tahun, hubungan tanpa arah, kedekatan tanpa wali, interaksi yang melanggar batasan syariat — dengan dalih “ini kan ikhtiar”.

Ikhtiar hanya bernilai ibadah bila ditempuh di jalan yang Allah ridhai. Usaha yang dibangun di atas khalwat dan pandangan yang tidak dijaga bukanlah sebab yang diberkahi; ia maksiat yang dibungkus niat baik. Dan pengalaman panjang menunjukkan hal yang sama dengan yang ditunjukkan syariat: kedekatan yang tumbuh mendahului akad lebih sering melahirkan kerugian daripada pernikahan yang kokoh.

Takdir tidak pernah menjadi pembenaran untuk maksiat. Sebagaimana pencuri tidak boleh berkata “mencuri ini sudah takdir saya”, pencari jodoh tidak boleh berkata “pacaran ini bagian dari ikhtiar saya”.

Bentuk ikhtiar yang sesuai syariat

Antara diam dan menerabas batas, ada jalan tengah yang diperintahkan:

  1. Memantaskan diri — memperbaiki agama, akhlak, dan kesiapan memikul tanggung jawab rumah tangga. Inilah ikhtiar yang paling awal dan paling dalam.
  2. Memperbanyak doa — memohon pasangan yang baik, sebagaimana doa yang Allah abadikan: “Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun” (QS. Al-Furqan: 74).
  3. Membuka pintu yang halal — memberi tahu keluarga, guru, atau orang terpercaya bahwa Anda siap menikah, dan bersedia dikenalkan.
  4. Menempuh ta’aruf yang menjaga adab — perkenalan yang bertujuan menikah, tanpa khalwat, dengan keterlibatan wali dan perantara. Prosesnya kami uraikan di panduan cara ta’aruf dan adab-adabnya.
  5. Menyiapkan diri untuk dinilai — menyusun biodata atau CV ta’aruf yang jujur, karena kejujuran adalah pondasi keputusan yang benar.
  6. Istikharah sebelum memutuskan — menyerahkan pilihan akhir kepada Allah setelah usaha ditunaikan.

Tawakkal yang benar: usaha, doa, lalu ridha

Tawakkal bukan berada sebelum usaha atau sebagai pengganti usaha — ia menyertai usaha dan menerima hasilnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

— QS. At-Talaq: 3

Maka rumusnya sederhana, meski menjalaninya butuh iman:

  • Berusaha di jalan yang halal, dengan sungguh-sungguh.
  • Berdoa dan menyandarkan hati kepada Allah, bukan kepada usaha itu sendiri.
  • Ridha terhadap hasilnya — karena bisa jadi yang Allah tahan hari ini adalah penjagaan, dan yang Allah beri nanti adalah yang terbaik pada waktu terbaik.

Jika sebuah proses ta’aruf tidak berlanjut, itu bukan kegagalan takdir — itu takdir yang sedang mengarahkan Anda kepada yang lebih tepat. Dan jika jodoh terasa lama, ingatlah bahwa yang tertulis tidak akan pernah luput, dan yang luput memang tidak pernah tertulis untuk Anda.

Penutup

Jadi, jodoh itu takdir atau usaha? Keduanya — dalam kedudukannya masing-masing. Jodoh telah tertulis dalam ilmu Allah, dan Anda diperintahkan berikhtiar tanpa mengetahui tulisan itu. Tugas kita bukan menebak isi Lauhul Mahfuzh, melainkan menempuh sebab yang halal lalu menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Menetapkan.

Jika Anda sudah sampai pada kesimpulan itu dan siap mengambil langkah ikhtiar yang terjaga adabnya, Taaruf Lalu Nikah telah memfasilitasi proses ta’aruf sesuai syariat sejak 2017 — gratis, dengan hampir 49 ribu member terdaftar dan lebih dari 240 pasangan yang telah menikah melalui prosesnya. Sebagian kisah mereka bisa Anda baca di kisah sukses.

Mulai ikhtiar Anda dengan mendaftar gratis di app.taaruflalunikah.id — atau pelajari dulu tahapan prosesnya, cara menyusun CV ta’aruf, dan adab yang perlu dijaga.

Pertanyaan terkait

Apakah jodoh sudah ditentukan sejak lahir?

Ya, dalam arti telah tertulis dalam ilmu Allah. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi (HR. Muslim no. 2653), dan itu mencakup rezeki, ajal, serta seluruh perjalanan hidup — termasuk siapa yang dinikahi. Tetapi tulisan itu tidak kita ketahui, sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk berhenti berusaha.

Kalau jodoh sudah tertulis, untuk apa berusaha mencarinya?

Karena kita diperintahkan beramal, bukan bersandar pada tulisan yang tidak kita ketahui. Ketika para sahabat bertanya hal serupa, Nabi ﷺ menjawab: 'Beramallah, karena masing-masing akan dimudahkan menuju apa yang telah ditakdirkan untuknya' (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647). Ikhtiar itu sendiri adalah bagian dari takdir, bukan lawannya.

Apakah menunggu jodoh datang sendiri termasuk tawakkal?

Tidak. Tawakkal yang diajarkan Nabi ﷺ adalah menggabungkan usaha dan penyandaran hati: 'Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah' (HR. Tirmidzi no. 2517, dinilai hasan oleh Al-Albani). Menunggu tanpa usaha bukan tawakkal, melainkan sikap fatalis yang tidak dikenal dalam ajaran Ahlus Sunnah.

Bolehkah pacaran dengan alasan sedang berikhtiar mencari jodoh?

Tidak. Ikhtiar hanya bernilai bila ditempuh di jalan yang Allah halalkan. Pacaran mengandung khalwat dan interaksi yang dilarang syariat, sehingga ia bukan ikhtiar melainkan maksiat yang dibungkus niat baik. Jalan yang disyariatkan adalah ta'aruf yang menjaga adab dan melibatkan wali.

Belum yakin harus mulai dari mana?

Kenali dulu kesiapan dan tipe ta'aruf Anda lewat tes singkat. Bisa dikerjakan sekarang, tanpa perlu membuat akun.