Persiapan Menikah

Kesiapan Mental dan Ilmu Sebelum Menikah

4 menit baca

Kesiapan menikah bukan perasaan siap, melainkan kesediaan memikul tanggung jawab yang tidak bisa dikembalikan. Tandanya: mampu mendahulukan kepentingan orang lain, menyelesaikan konflik tanpa menghindar atau meledak, mandiri secara emosional, dan sudah mempelajari hak serta kewajiban suami istri sebelum akad — bukan sesudahnya.

Kesiapan finansial bisa dihitung. Kesiapan mental tidak — dan justru itu yang lebih menentukan apakah sebuah rumah tangga bertahan.

Kesiapan bukan perasaan

Banyak orang menunggu sampai “merasa siap”. Perasaan itu jarang datang, dan bagi sebagian orang tidak pernah datang sama sekali.

Kesiapan menikah bukan perasaan, melainkan kesediaan memikul tanggung jawab yang tidak bisa dikembalikan.

Sebagian orang merasa sangat siap tetapi belum sanggup memikulnya. Sebagian lain merasa ragu tetapi sebenarnya sudah mampu. Yang menentukan bukan perasaannya.

Enam tanda kesiapan

1. Mampu mendahulukan orang lain

Ini yang paling menentukan. Menikah berarti kenyamanan pribadi tidak lagi menjadi pertimbangan pertama.

Ujilah pada hal sederhana: bagaimana Anda memperlakukan orang tua dan saudara Anda saat ini? Apakah Anda pernah mengalah pada hal yang Anda inginkan demi orang lain?

Orang yang belum pernah mendahulukan siapa pun akan kesulitan memulainya setelah akad.

2. Bisa menyelesaikan konflik

Bukan menghindarinya, dan bukan meledak.

Perhatikan pola Anda sendiri: ketika berselisih, apakah Anda mendiamkan berhari-hari? Menyerang lebih dulu? Atau membicarakannya?

Pola yang sudah ada sekarang akan terbawa, dan justru muncul lebih sering dalam rumah tangga.

3. Mandiri secara emosional

Menikah untuk mengisi kekosongan adalah beban yang diletakkan pada orang lain. Pasangan bisa menemani, tetapi tidak bisa menjadi sumber ketenangan yang seharusnya datang dari dalam diri dan dari hubungan dengan Allah.

4. Bisa mengelola diri sehari-hari

Mengurus kebutuhan sendiri, mengelola waktu, mengelola uang. Orang yang belum bisa mengurus dirinya sendiri akan kesulitan mengurus rumah tangga.

5. Punya gambaran yang realistis

Rumah tangga bukan kelanjutan dari masa perkenalan yang menyenangkan. Ada urusan sepele yang berulang setiap hari, ada perbedaan yang tidak selesai, ada masa-masa yang tidak romantis sama sekali.

Yang punya gambaran realistis lebih tahan menghadapi kenyataan itu.

6. Siap menerima keluarga pasangan

Menikah bukan hanya dengan orangnya. Ada mertua, ipar, dan kebiasaan keluarga yang berbeda.

Ilmu yang perlu dipelajari sebelum akad

Ini bagian yang paling sering dilewatkan, padahal paling mudah diperbaiki.

1. Fiqih nikah

  • Syarat dan rukun akad.
  • Kedudukan wali dan saksi.
  • Mahar dan ketentuannya.
  • Hal-hal yang membatalkan akad.
  • Talak dan akibatnya — dipelajari bukan untuk dipakai, tetapi agar tidak diucapkan sembarangan karena ketidaktahuan.

2. Hak dan kewajiban suami istri

Bagian yang paling banyak salah paham, dan paling sering menjadi sumber konflik. Dipelajari dari sumber yang jelas, bukan dari potongan-potongan yang beredar.

3. Fiqih thaharah yang berkaitan

Ketentuan janabah, haid, nifas, dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri. Ilmu yang langsung dipakai sejak malam pertama, dan tidak elok baru dicari saat itu.

4. Dasar pengasuhan anak

Belum mendesak, tetapi lebih baik dipelajari sebelum kelelahan mengurus bayi membuat tidak ada waktu untuk belajar apa pun.

Cara paling praktis: ikuti kajian pranikah, baca kitab atau buku yang dirujuk ustadz yang Anda percayai, dan bertanya langsung tentang hal yang belum jelas.

Tanda belum siap

  • Menikah untuk melarikan diri dari masalah keluarga atau kesepian.
  • Menikah karena tekanan usia atau pertanyaan orang.
  • Belum bisa mengelola emosi — mudah meledak, atau memendam sampai menumpuk.
  • Belum bisa mengelola keuangan sendiri.
  • Berharap pasangan yang akan mengubah dirinya.
  • Berharap dirinya yang akan mengubah pasangan.

Dua poin terakhir perlu ditegaskan: jangan menikahi orang dengan harapan ia akan berubah. Menikahlah dengan orang yang bisa Anda terima sebagaimana ia hari ini.

Rasa takut menjelang menikah

Ini wajar, dan sering justru menandakan seseorang memahami beratnya tanggung jawab.

Yang perlu diperiksa adalah sumbernya:

  • Takut karena keputusan besar — akan berkurang seiring kesiapan bertambah.
  • Takut karena belum siap memikul tanggung jawab — perlu ditindaklanjuti dengan persiapan yang nyata.
  • Takut karena ada yang mengganjal tentang calon — jangan diabaikan. Tanyakan, cari tahu, jangan dipendam.

Bagi yang merasa belum cukup baik agamanya

Ini penghalang yang sering menahan orang-orang baik.

Tidak ada yang menikah dalam keadaan sempurna. Menunggu menjadi cukup baik lebih dahulu adalah penundaan yang tidak berujung, karena ukuran “cukup” akan terus bergeser.

Yang perlu ada bukan kesempurnaan, melainkan arah: ibadah pokok dijaga, ada kesungguhan memperbaiki diri, dan kejujuran tentang di mana posisi Anda saat ini.

Justru pernikahan sering menjadi sarana perbaikan itu sendiri, karena ada orang lain yang menuntut Anda menjadi lebih baik daripada saat sendirian.

Ujian terakhir

Bila harus diringkas menjadi satu pertanyaan:

Apakah Anda siap mendahulukan orang lain, setiap hari, tanpa jaminan akan selalu dibalas?

Bila jawabannya ya, sisanya bisa dipelajari.

Selanjutnya: persiapan finansial dan hak dan kewajiban suami istri.

Pertanyaan terkait

Apa tanda seseorang sudah siap menikah?

Tanda yang paling menentukan: mampu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kenyamanan sendiri, bisa menyelesaikan perselisihan tanpa menghindar atau meledak, tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada orang lain, dan sudah memahami hak serta kewajiban dalam rumah tangga.

Ilmu apa saja yang perlu dipelajari sebelum menikah?

Minimal empat: fiqih nikah (syarat, rukun, hal yang membatalkan), hak dan kewajiban suami istri, fiqih thaharah yang berkaitan dengan hubungan suami istri, dan dasar-dasar pengasuhan anak. Keempatnya dipelajari sebelum akad, bukan sesudahnya.

Apakah rasa takut menikah itu wajar?

Wajar, dan justru sering menandakan seseorang memahami beratnya tanggung jawab. Yang perlu diperiksa adalah sumbernya: takut karena belum siap memikul tanggung jawab perlu ditindaklanjuti dengan persiapan, sedangkan takut karena keputusan besar umumnya akan berkurang seiring kesiapan bertambah.

Bagaimana kalau saya merasa belum cukup baik agamanya?

Tidak ada yang menikah dalam keadaan sempurna. Pernikahan justru salah satu sarana memperbaiki diri, dan menunggu menjadi sempurna lebih dahulu adalah penundaan yang tidak berujung. Yang perlu ada adalah arah perbaikan, bukan kesempurnaan.

Belum yakin harus mulai dari mana?

Kenali dulu kesiapan dan tipe ta'aruf Anda lewat tes singkat. Bisa dikerjakan sekarang, tanpa perlu membuat akun.