Rumah Tangga

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Islami

4 menit baca

Dalam Islam harta suami dan istri terpisah: nafkah adalah kewajiban suami, dan penghasilan istri tetap menjadi miliknya sendiri. Pengelolaan yang tenang dibangun dari empat hal — kejelasan siapa menanggung apa, keterbukaan tentang pemasukan dan utang, kesepakatan tentang batas pengeluaran besar, dan menjauhi utang berbunga.

Keuangan adalah salah satu penyebab konflik rumah tangga yang paling sering, dan hampir seluruhnya bisa dicegah dengan kejelasan sejak awal.

Kedudukan harta dalam Islam

Yang membedakan pengaturan Islam dari kebiasaan umum: harta suami dan istri terpisah.

Nafkah adalah kewajiban suami

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.”

— QS. At-Talaq: 7

Kewajiban ini melekat pada suami, tidak gugur karena istri berpenghasilan, bahkan bila penghasilan istri lebih besar.

Harta istri adalah miliknya

Penghasilan, warisan, mahar, dan pemberian yang diterima istri adalah miliknya sendiri. Ia berhak mengelolanya, dan tidak wajib menyerahkannya kepada suami.

Bila ia turut menanggung kebutuhan rumah tangga, itu kebaikan dan sedekah darinya — bukan kewajiban yang bisa dituntut.

Ini perlu ditegaskan karena banyak konflik bermula dari anggapan bahwa penghasilan istri otomatis menjadi milik bersama sementara nafkah tetap dituntut dari suami.

Empat hal yang perlu disepakati

1. Siapa menanggung apa

Susun secara jelas, jangan mengandalkan asumsi:

  • Kebutuhan pokok — kewajiban suami.
  • Bila istri turut membantu, untuk pos apa dan berapa.
  • Siapa menanggung kebutuhan pribadi masing-masing.
  • Bagaimana tanggungan kepada orang tua kedua pihak diatur.

2. Keterbukaan tentang pemasukan dan utang

Tidak harus saling melaporkan setiap rupiah, tetapi keduanya perlu tahu gambaran umumnya — terutama utang.

Utang yang disembunyikan hampir selalu terbongkar pada saat yang paling buruk, dan yang rusak bukan hanya keuangannya, tetapi kepercayaannya.

3. Batas pengeluaran yang perlu dibicarakan

Sepakati satu angka: pengeluaran di atasnya dibicarakan berdua lebih dahulu.

Ini menghilangkan sebagian besar konflik tentang “kenapa beli tanpa bilang”, tanpa membuat keduanya harus melapor untuk hal-hal kecil.

4. Menabung dan berbagi

  • Berapa yang disisihkan setiap bulan.
  • Dana darurat, idealnya beberapa bulan pengeluaran.
  • Zakat dan sedekah rutin.

Menjauhi riba

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

— QS. Al-Baqarah: 275

Ini bukan sekadar soal hukum, tetapi soal ketenangan rumah tangga. Cicilan berbunga menciptakan tekanan yang berjalan terus setiap bulan, dan tekanan itu masuk ke dalam hubungan.

Bila sudah terlanjur: selesaikan secepat mungkin, jangan tambah, prioritaskan pelunasannya di atas pengeluaran yang bisa ditunda, jangan mengambil pinjaman baru untuk menutup yang lama, dan bertaubat serta bertekad tidak mengulanginya.

Rasulullah ﷺ sering berlindung dari lilitan utang dalam doanya, dan itu menunjukkan betapa beratnya beban ini.

Penyebab konflik yang paling sering

1. Harapan yang tidak pernah dibicarakan. Satu pihak mengira gaya hidupnya akan berlanjut, satu lagi mengira akan berhemat. Keduanya tidak pernah membicarakannya.

2. Menyembunyikan pengeluaran. Biasanya bermula dari menghindari perdebatan, dan berakhir pada hilangnya kepercayaan.

3. Tanggungan keluarga besar yang tidak disepakati. Terutama bila salah satu menanggung orang tua atau adik. Ini harus jelas sejak sebelum menikah.

4. Membandingkan dengan rumah tangga lain. Sumber ketidakpuasan yang tidak ada habisnya.

5. Tidak ada dana darurat. Satu kejadian tak terduga cukup untuk membuat seluruh rencana berantakan, dan tekanannya jatuh ke hubungan.

6. Penghasilan istri dianggap wajib diserahkan. Bertentangan dengan ketentuan syariat, dan menimbulkan rasa tidak adil yang bertahan lama.

Susunan sederhana yang bisa dipakai

  1. Hitung kebutuhan pokok bulanan secara jujur.
  2. Pastikan nafkah suami menutupinya. Bila belum, kurangi pengeluaran atau tambah pemasukan — jangan menutupnya dengan utang.
  3. Sisihkan zakat dan sedekah lebih dahulu, bukan dari sisa.
  4. Sisihkan tabungan dengan jumlah tetap, sebelum pengeluaran tidak pokok.
  5. Bangun dana darurat sampai mencapai beberapa bulan pengeluaran.
  6. Sisanya untuk kebutuhan tidak pokok, dengan batas yang disepakati.
  7. Tinjau bersama sebulan sekali — singkat saja, tetapi rutin.

Langkah terakhir yang paling sering dilewatkan, padahal paling berguna. Peninjauan rutin membuat masalah terlihat saat masih kecil.

Membicarakannya sebelum menikah

Ini termasuk bahasan yang wajib ada dalam ta’aruf:

  • Kesanggupan menafkahi.
  • Tanggungan yang sudah ada.
  • Utang, terutama yang berbunga.
  • Apakah istri bekerja, dan bagaimana penghasilannya diperlakukan.
  • Siapa yang mengelola.
  • Kewajiban rutin kepada keluarga besar.

Pembicaraan yang canggung sebelum menikah jauh lebih ringan daripada pertengkaran yang berulang sesudahnya.

Yang menenangkan

Ketenangan keuangan rumah tangga tidak datang dari besarnya penghasilan. Banyak rumah tangga berpenghasilan besar yang tidak tenang, dan banyak yang sederhana tetapi cukup.

Yang menenangkan adalah kejelasan, keterbukaan, dan tidak adanya beban riba — dan ketiganya tidak menuntut penghasilan besar.

Selanjutnya: persiapan finansial sebelum menikah dan hak dan kewajiban suami istri.

Pertanyaan terkait

Apakah penghasilan istri wajib diserahkan kepada suami?

Tidak. Harta yang diperoleh istri adalah miliknya sendiri, dan ia berhak mengelolanya. Bila ia turut menanggung kebutuhan rumah tangga, itu adalah kebaikan dan sedekah darinya, bukan kewajiban yang bisa dituntut.

Siapa yang sebaiknya memegang keuangan rumah tangga?

Tidak ada ketentuan syariat yang menetapkannya. Yang menentukan adalah siapa yang lebih tertib dan lebih mampu mengelola, disepakati bersama. Yang tidak dibenarkan adalah salah satu pihak menyembunyikan keadaan keuangan dari yang lain.

Apakah suami wajib memberi nafkah meski istri berpenghasilan lebih besar?

Ya. Kewajiban nafkah melekat pada suami dan tidak gugur karena istri berpenghasilan, bahkan bila penghasilan istri lebih besar. Yang boleh terjadi adalah istri turut membantu atas kerelaannya sendiri.

Bagaimana menyikapi cicilan berbunga yang sudah terlanjur berjalan?

Riba haram, dan yang sudah terlanjur sebaiknya diselesaikan secepat mungkin dan tidak ditambah. Prioritaskan pelunasannya di atas pengeluaran yang bisa ditunda, hindari mengambil pinjaman baru untuk menutup yang lama, dan bertaubat serta bertekad tidak mengulanginya.

Belum yakin harus mulai dari mana?

Kenali dulu kesiapan dan tipe ta'aruf Anda lewat tes singkat. Bisa dikerjakan sekarang, tanpa perlu membuat akun.